Bubur Pedas Sambas Naik Daun, Semangkuk Hangat Kaya Rempah

Bubur Pedas Sambas Naik Daun, Semangkuk Hangat Kaya Rempah

Kuliner ViralBubur Pedas Sambas kembali menarik perhatian sebagai salah satu kuliner tradisional Kalimantan Barat yang kaya rasa dan cerita. Pada 28 Agustus 2026, hidangan ini kembali disorot sebagai kuliner khas masyarakat Melayu Sambas. Keunikannya terletak pada beras yang dihaluskan dan disangrai, lalu dimasak bersama beragam sayuran serta rempah. Daun kesum, pakis, kangkung, kacang panjang, hingga berbagai pelengkap dapat ditemukan dalam semangkuk bubur. Menariknya, kata “pedas” tidak berarti hidangan ini selalu membakar lidah. Karakternya justru cenderung gurih, berempah, dan aromatik. Selain nikmat disantap hangat, bubur ini menyimpan jejak budaya Melayu Sambas yang panjang. Bubur Paddas bahkan telah tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak 2015. Karena itu, naik daunnya kembali hidangan ini bukan sekadar tren kuliner. Ada identitas daerah yang ikut diperkenalkan kepada generasi baru.

Baca Juga: Kopi dan Dessert Makin Kreatif, Kombinasi Unik Jadi Buruan

Bubur Pedas Sambas Berasal dari Tradisi Melayu Kalimantan Barat

Nama Bubur Pedas Sambas atau Bubbor Paddas sangat lekat dengan masyarakat Melayu Sambas di Kalimantan Barat. Hidangan tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat selama beberapa generasi. Sumber Kementerian Pariwisata menyebut bubur ini sebagai salah satu kuliner unggulan Melayu Sambas. Dahulu, sajian tersebut dikaitkan dengan lingkungan kerajaan dan acara tertentu. Seiring waktu, bubur pedas kemudian berkembang menjadi makanan masyarakat yang lebih luas. Cerita mengenai sejarah awalnya memiliki beberapa versi. Karena itu, kisah tentang kerajaan atau masa kekurangan pangan lebih tepat dipahami sebagai bagian dari riwayat dan tradisi yang diwariskan. Yang jelas, keberadaan bubur ini sekarang tidak lagi terbatas pada acara khusus. Masyarakat dapat menikmatinya sebagai makanan sehari-hari. Selain itu, bubur pedas kerap hadir saat Ramadan dan kegiatan kebersamaan. Transformasi tersebut menarik. Hidangan yang memiliki akar tradisi mampu bertahan karena masyarakat terus memasaknya, bukan sekadar menyimpannya sebagai cerita masa lalu.

Nama Pedas Ternyata Tidak Berarti Cabainya Melimpah

Mendengar namanya, orang mungkin membayangkan semangkuk bubur dengan cabai dalam jumlah besar. Namun, karakter Bubur Pedas Sambas berbeda. Sumber Kementerian Pariwisata menjelaskan bahwa tanpa tambahan sambal, hidangan tersebut justru cenderung gurih dan segar. Beberapa resep tradisional menggunakan lada untuk menghasilkan sensasi hangat. Daun kesum dan beragam rempah juga memperkuat aromanya. Sementara itu, cabai rawit dapat hadir sebagai pelengkap sesuai selera. Katalog Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencatat lada hitam atau putih, ketumbar, terasi, bawang, lengkuas, daun kesum, daun kunyit, serta daun kencur di antara bahan tradisionalnya. Karena itu, istilah “pedas” dalam konteks hidangan ini sebaiknya tidak disamakan dengan tingkat kepedasan sambal. Sensasinya lebih kompleks. Ada gurih, aroma rempah, sedikit rasa hangat, serta kesegaran sayuran. Justru kombinasi itulah yang membuat semangkuk bubur terasa berbeda dari bubur nasi biasa.

Beras Sangrai Menjadi Dasar Karakter Bubur yang Khas

Teknik pengolahan beras menjadi salah satu pembeda penting. Beras untuk bubur pedas tidak sekadar direbus sampai lunak. Dalam metode tradisional, beras dihaluskan kemudian disangrai sebelum dimasak. Kelapa parut sangrai juga dapat digunakan untuk memperkaya aroma dan rasa. Informasi Desa Wisata Temajuk dari Kementerian Pariwisata mencatat beras halus sangrai dan kelapa parut sangrai sebagai bagian dari komposisi Bubur Paddas. Proses tersebut memberikan karakter yang berbeda dari bubur nasi putih biasa. Aroma panggang dari beras dan kelapa menjadi fondasi sebelum berbagai sayuran serta bumbu dimasukkan. Selain itu, teknik sangrai membantu membangun rasa tanpa harus bergantung pada satu jenis bumbu. Menurut saya, bagian ini sering terlewat ketika orang hanya melihat banyaknya sayuran dalam mangkuk. Padahal, rasa khas bubur sudah mulai dibentuk sebelum sayuran masuk ke panci. Karena itu, mempertahankan teknik dasar tersebut penting ketika mencoba membuat versi yang mendekati karakter tradisionalnya.

Daun Kesum Menjadi Salah Satu Identitas Rasa

Di antara banyak bahan, daun kesum memiliki posisi istimewa. Kajian yang tercatat dalam portal data pemerintah menyebut daun kesum sebagai komponen penting Bubur Padas. Kajian tersebut mengidentifikasinya sebagai Persicaria minor, sementara daun miding atau pakis juga menjadi unsur penting dalam hidangan. Daun kesum memberikan aroma herbal yang khas dan tidak banyak ditemukan dalam masakan Indonesia lainnya. Karena itu, menggantinya dengan bahan lain dapat mengubah karakter akhir bubur. Penelitian mengenai bubur padas bahkan menggunakan tanaman tersebut untuk melihat hubungan antara botani dan budaya masyarakat Melayu Sambas. Dengan kata lain, bahan lokal bukan sekadar penyedap. Ia ikut membentuk identitas kuliner daerah. Selain daun kesum, berbagai versi bubur dapat menggunakan kangkung, pakis, kacang panjang, ubi, rebung, atau sayuran lainnya. Komposisinya dapat berbeda antar keluarga. Namun, keberadaan rempah dan sayuran lokal tetap menjadi benang merah yang membuat hidangan tersebut mudah dikenali.

Satu Mangkuk Bisa Berisi Banyak Jenis Sayuran

Bubur pedas terkenal dengan isiannya yang ramai. Katalog Warisan Budaya Takbenda mencatat sejumlah bahan sayuran, seperti nangka muda, jagung muda, jamur kuping, kacang panjang, ubi rambat, rebung, kangkung, pakis merah, tauge, dan cangkong manis. Namun, bukan berarti setiap mangkuk harus menggunakan seluruh bahan tersebut sekaligus. Resep rumah tangga dapat berbeda berdasarkan musim dan ketersediaan bahan. Hal tersebut justru menunjukkan sifat fleksibel makanan tradisional. Masyarakat menggunakan apa yang tersedia di lingkungan sekitar tanpa menghilangkan karakter utamanya. Karena banyak sayuran digunakan, tekstur hidangan pun tidak sepenuhnya lembut seperti bubur polos. Ada potongan sayuran, daun, kacang, serta pelengkap yang memberikan sensasi berbeda pada setiap suapan. Selain itu, warna hijau dari berbagai daun membuat tampilannya mudah dikenali. Bagi orang yang baru mencobanya, tekstur tersebut mungkin menjadi kejutan pertama. Namun, setelah beberapa suapan, kombinasi nasi lembut dan sayuran justru menjadi bagian penting dari daya tariknya.

Ikan Teri dan Kacang Tanah Membuat Tekstur Lebih Menarik

Semangkuk bubur pedas biasanya belum lengkap tanpa pelengkap. Ikan teri goreng dan kacang tanah menjadi dua tambahan yang sering digunakan. Kementerian Pariwisata mencatat keduanya sebagai bagian yang memperkuat cita rasa Bubur Paddas. Katalog Warisan Budaya Takbenda juga memasukkan ikan teri dan kacang tanah dalam daftar bahannya. Kehadiran keduanya penting dari sisi tekstur. Bubur dan sayuran memiliki karakter lembut. Sebaliknya, kacang serta teri goreng memberikan sensasi renyah. Teri juga menghadirkan rasa gurih yang lebih kuat. Beberapa penyajian menggunakan kecap manis, cabai rawit, atau jeruk sambal sebagai pelengkap. Namun, jumlahnya dapat disesuaikan agar tidak menutupi aroma rempah. Menurut saya, pendekatan terbaik adalah mencicipi bubur terlebih dahulu sebelum menambahkan banyak kondimen. Dengan cara tersebut, karakter daun kesum, beras sangrai, dan bumbu masih dapat terasa. Setelah itu, pelengkap dapat digunakan untuk menyesuaikan rasa dengan preferensi masing-masing.

Bubur Pedas Juga Menjadi Simbol Kebersamaan

Nilai Bubur Pedas Sambas tidak berhenti pada rasa. Tradisi memasaknya juga berkaitan dengan kebersamaan masyarakat. Dokumentasi di Desa Tebing Batu, Kecamatan Sebawi, Sambas, memperlihatkan warga menyiapkan bubur pedas secara gotong royong. Bahan dikumpulkan dan proses memasak dilakukan bersama, termasuk melibatkan generasi muda. Gambaran tersebut membuat hidangan ini memiliki dimensi sosial yang kuat. Memasak dalam jumlah besar memang membutuhkan banyak pekerjaan. Sayuran harus dipersiapkan, rempah diolah, kemudian bubur terus diperhatikan selama proses memasak. Namun, pekerjaan tersebut terasa berbeda ketika dilakukan bersama. Dari dapur itulah pengetahuan kuliner dapat berpindah dari generasi tua kepada generasi berikutnya. Teknik memasak tidak hanya tersimpan dalam resep tertulis. Banyak detail justru dipahami melalui pengalaman langsung. Karena itu, menjaga makanan tradisional juga berarti menjaga proses sosial di belakangnya. Semangkuk bubur akhirnya menyimpan lebih dari bahan makanan. Ada pengetahuan lokal, gotong royong, dan ingatan keluarga yang ikut berada di dalamnya.

Bubur Paddas Sudah Tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda

Status budaya bubur ini memiliki dasar dokumentasi yang jelas. Dalam Katalog Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2018, Bubur Paddas dari Kalimantan Barat tercatat dengan tahun penetapan 2015 dan nomor registrasi 201500257. Catatan tersebut penting karena menunjukkan bahwa hidangan ini bukan sekadar menu yang kebetulan populer. Ada nilai budaya yang telah diakui dan didokumentasikan. Namun, status warisan budaya bukan berarti makanan harus berhenti berkembang. Resep keluarga dapat memiliki perbedaan. Cara penyajian pun dapat mengikuti kebutuhan zaman. Yang perlu dijaga adalah pengetahuan mengenai asal, bahan penting, serta konteks budayanya. Karena itu, popularitas baru dapat memberikan dampak positif apabila informasi yang beredar tetap akurat. Generasi muda mungkin pertama kali mengenal Bubur Pedas Sambas melalui media sosial. Setelah tertarik, mereka dapat mempelajari daun kesum, teknik menyangrai beras, atau tradisi memasaknya. Dengan demikian, tren digital justru dapat menjadi pintu masuk menuju pemahaman budaya yang lebih dalam.

Popularitas Baru Membuka Peluang untuk Kuliner Lokal

Sorotan terhadap bubur pedas kembali muncul pada Agustus 2026. RRI mengangkatnya pada 28 Agustus sebagai hidangan khas Kalimantan Barat dengan perpaduan sayuran dan rempah. Sebelumnya, pada Juli 2026, Katadata juga menyoroti hubungan bubur pedas dengan kekayaan tumbuhan dan lingkungan Kalimantan. Perhatian tersebut menunjukkan bahwa makanan tradisional masih memiliki ruang besar dalam percakapan kuliner modern. Namun, istilah “naik daun” tidak perlu dimaknai seolah makanan ini baru ditemukan. Masyarakat Sambas telah mengenalnya jauh sebelum media digital menjadikannya menarik bagi audiens lebih luas. Justru, hal yang berubah adalah jangkauan ceritanya. Sekarang, orang dari daerah lain dapat melihat proses, bahan, dan tampilannya melalui layar. Kondisi ini membuka peluang bagi wisata kuliner dan pelaku usaha lokal. Meski demikian, popularitas sebaiknya tidak menghilangkan identitas asli. Nama bahan, asal daerah, serta sejarah masyarakat yang mempertahankannya tetap layak disebut.

Semangkuk Hangat yang Membawa Cerita Sambas

Pada akhirnya, daya tarik Bubur Pedas Sambas berada pada perpaduan rasa, bahan, dan cerita. Beras sangrai memberikan fondasi. Sayuran membuat isi mangkuk terasa beragam. Sementara itu, daun kesum dan rempah menghadirkan aroma yang menjadi ciri khas. Teri dan kacang tanah kemudian menambahkan tekstur renyah. Namun, pengalaman menikmati bubur ini tidak berhenti pada rasa. Ada jejak masyarakat Melayu Sambas dan tradisi memasak bersama yang ikut melekat. Bahkan, hidangan tersebut sudah masuk dokumentasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak 2015. Karena itu, kemunculannya kembali dalam percakapan kuliner 2026 layak dilihat sebagai kesempatan memperkenalkan makanan daerah secara lebih luas. Orang mungkin awalnya tertarik karena namanya terdengar unik. Namun, setelah mencicipinya, justru rasa gurih, aroma rempah, dan banyaknya sayuran yang menjadi kejutan. Dari semangkuk sederhana, Bubur Pedas Sambas menunjukkan bagaimana kuliner lokal dapat menyimpan identitas daerah dalam bentuk yang hangat dan mudah dinikmati.