Pizza Seolgi Jadi Sensasi Korea, Tteok Tradisional Tampil Lebih Kekinian

Pizza Seolgi Jadi Sensasi Korea, Tteok Tradisional Tampil Lebih Kekinian

Kuliner ViralPizza Seolgi sedang membuktikan bahwa makanan tradisional tidak harus kehilangan identitas untuk terlihat modern. Tren kuliner Korea ini menggunakan baekseolgi, yaitu kue beras putih yang dikukus, sebagai dasar. Kemudian, penjual menambahkan saus tomat, keju, dan topping bergaya pizza. Hasilnya terlihat seperti pizza kecil, tetapi tekstur dasarnya tetap membawa karakter tteok. Tren tersebut bermula dari sebuah toko kue beras di Yeongdo, Busan. Pemilik generasi muda mengembangkan menu itu sebelum video pendeknya menyebar di media sosial. Popularitasnya kemudian bergerak ke berbagai toko tteok di Korea. SBS melaporkan satu toko di Incheon mengalami lonjakan penjualan harian dari sekitar 200 hingga maksimum 6.000 buah setelah tren berkembang. Sementara itu, toko lain di Gwangmyeong sampai menghentikan reservasi karena pesanan meningkat menjelang Chuseok. Fenomena ini menunjukkan bagaimana resep lama dapat memperoleh kehidupan baru melalui presentasi yang relevan dengan konsumen masa kini.

Baca Juga: Donat Kembali Meledak di TikTok, Kreasi Baru Mulai Bermunculan

Pizza Seolgi Berawal dari Toko Tteok di Busan

Cerita Pizza Seolgi menjadi menarik karena kelahirannya tidak berasal dari jaringan restoran besar. Menurut laporan media Korea, menu tersebut berkembang dari toko tteok lokal di Yeongdo, Busan. Generasi muda yang meneruskan usaha keluarga mencoba memberikan pendekatan baru pada rice cake tradisional. Dari sana, baekseolgi mendapat tampilan yang lebih dekat dengan makanan populer. Saus tomat, keju, dan topping diletakkan di permukaan sehingga bentuk akhirnya mengingatkan pada pizza. Kemudian, video pendek dan ulasan konsumen membantu menyebarkan konsep tersebut. Orang-orang mulai mengunggah pengalaman mengantre, mencicipi, bahkan mencoba membuat versinya sendiri. SBS mencatat bahwa tren itu akhirnya menyebar ke toko rice cake di berbagai daerah Korea. Menurut saya, bagian paling menarik justru terletak pada asal-usulnya. Pizza Seolgi bukan upaya menghapus tteok lama. Sebaliknya, inovasi tersebut menunjukkan bagaimana bisnis keluarga dapat membaca perubahan selera tanpa meninggalkan produk yang sudah menjadi bagian dari tradisi.

Baekseolgi Tetap Menjadi Fondasi Utamanya

Meski tampil seperti pizza, dasar Pizza Seolgi bukan adonan roti berbahan tepung terigu. Produk ini menggunakan baekseolgi, salah satu jenis tteok Korea yang dibuat dengan beras dan dimasak melalui proses pengukusan. Karena itu, pengalaman ketika memakannya berbeda dari pizza biasa. Teksturnya lebih menyerupai steamed rice cake daripada roti yang dipanggang. SBS menggambarkan baekseolgi pada produk tersebut memiliki karakter crumbly, lalu permukaannya diberi saus tomat, pepperoni, dan keju. Kombinasi ini menghasilkan pertemuan dua identitas kuliner yang jelas. Bagian bawah masih membawa karakter rice cake Korea. Sementara itu, topping memberikan rasa dan visual yang lebih familiar bagi penggemar pizza. Inilah alasan istilah “fusion food” terasa tepat. Produk tersebut tidak berusaha menjadi pengganti pizza Italia. Ia menggunakan tampilan pizza untuk memperkenalkan pengalaman makan tteok dalam bentuk berbeda. Dengan demikian, konsumen yang sudah mengenal baekseolgi mendapatkan kejutan baru, sedangkan generasi muda memiliki alasan untuk kembali melirik toko tteok tradisional.

Media Sosial Mengubah Tteok Menjadi Bahan Percakapan

Kecepatan popularitas Pizza Seolgi sulit dipisahkan dari media sosial. Video antrean, proses pengukusan, keju yang meleleh, dan potongan rice cake memberikan materi visual yang mudah menarik perhatian. Seoul Economic Daily melaporkan minat pencarian Pizza Seolgi di Google Trends melonjak lebih dari sepuluh kali lipat dalam sepuluh hari. Skornya naik dari 9 pada 20 Agustus menjadi 98 pada 1 September 2026. Namun, angka Google Trends perlu dibaca dengan benar. Nilai tersebut merupakan indeks minat pencarian relatif, bukan jumlah penjualan. Data yang sama juga menunjukkan perubahan cara konsumen membicarakan tteok. Berdasarkan data platform analitik Sometrend yang dikutip media tersebut, unggahan yang menyebut rice cake sebagai “dessert” meningkat lebih dari 40 persen dibanding periode tahun sebelumnya. Artinya, perubahan bukan hanya terjadi pada bentuk makanan. Cara generasi baru menempatkan tteok dalam budaya kuliner sehari-hari juga mulai bergeser.

Generasi Muda Membawa Energi Baru ke Toko Tradisional

Salah satu sisi menarik dari fenomena ini adalah pertemuan antargenerasi. Seoul Economic Daily melaporkan pembeli berusia 20-an mendatangi toko setelah melihat produk tersebut di media sosial. Sementara itu, konsumen berusia 50-an tertarik karena makanan itu pada dasarnya tetap rice cake. Situasi tersebut menciptakan jembatan yang jarang muncul secara alami dalam tren makanan. Satu kelompok datang karena rasa penasaran terhadap produk viral. Kelompok lain sudah memiliki hubungan familiar dengan tteok. Bagi toko tradisional, pertemuan itu memiliki nilai besar. Mereka tidak harus meninggalkan produk utama untuk menarik konsumen baru. Sebaliknya, mereka dapat mengubah presentasi, topping, atau ukuran agar lebih sesuai dengan kebiasaan makan modern. Menurut saya, strategi seperti ini lebih menarik daripada sekadar mengganti resep tradisional dengan produk asing. Warisan kuliner tetap menjadi pusat pengalaman. Namun, kemasannya berubah mengikuti zaman. Pizza Seolgi akhirnya menjadi contoh bahwa modernisasi makanan tradisional dapat terjadi secara sederhana tetapi tetap efektif.

Antrean Menjadi Bukti Tren Bergerak ke Dunia Nyata

Popularitas digital tidak selalu berujung pada pembelian. Namun, Pizza Seolgi menunjukkan tanda bahwa perhatian daring telah bergerak ke toko fisik. SBS melaporkan video konsumen yang mengantre sebelum toko buka mulai ramai di YouTube dan media sosial. Lebih jauh lagi, satu toko rice cake di Incheon mengalami peningkatan penjualan harian dari sekitar 200 menjadi maksimum 6.000 buah. Angka tersebut berasal dari satu toko, sehingga tidak boleh dianggap mewakili seluruh industri tteok Korea. Meski begitu, skalanya menunjukkan seberapa besar dampak tren bagi bisnis tertentu. Di Gwangmyeong, sebuah toko bahkan menghentikan reservasi sementara karena pesanan membanjir menjelang libur Chuseok. Dengan kata lain, viralitas tidak berhenti pada jumlah tayangan video. Orang benar-benar datang dan membeli. Bagi bisnis makanan tradisional, perubahan seperti ini dapat menjadi peluang besar. Tantangannya adalah mempertahankan kualitas ketika permintaan meningkat, sebab konsumen mungkin datang karena tren tetapi hanya kembali jika produknya memang memuaskan.

Harga Terjangkau Membuat Tren Lebih Mudah Dicoba

Produk viral sering menjadi mahal ketika permintaan melonjak. Namun, beberapa Pizza Seolgi tetap dipasarkan sebagai camilan pasar tradisional yang relatif terjangkau. Laporan terkini mengenai toko di Myeonmok Market, Seoul, mencatat harga sekitar 2.000 won per buah pada salah satu penjual. Harga tentu dapat berbeda menurut toko, ukuran, dan topping. Karena tidak ada satu jaringan nasional yang mengatur resep maupun harga, angka tersebut tidak boleh dianggap sebagai harga standar Korea. Namun, kisaran yang terjangkau membantu menjelaskan daya tariknya. Konsumen dapat membeli satu potong untuk mencoba tanpa harus memesan makanan besar. Selain itu, ukuran kecil cocok dengan kebiasaan berbagi makanan di media sosial. Pembeli dapat mencoba beberapa variasi sekaligus, lalu membandingkan rasa. Dari sudut pandang bisnis, format ini juga memberikan ruang bagi toko untuk bereksperimen. Mereka dapat mempertahankan adonan dasar tteok sambil mengganti topping. Dengan begitu, satu konsep dapat berkembang menjadi beberapa menu tanpa harus mengubah seluruh proses produksi tradisional.

Variasi Rasa Membuat Konsepnya Terus Berkembang

Ketika sebuah makanan menjadi populer, variasi biasanya muncul dengan cepat. Hal yang sama mulai terjadi pada Pizza Seolgi. Selain kombinasi saus tomat, keju, dan topping daging, beberapa toko mengembangkan versi dengan ubi manis, bulgogi, atau corn cheese. Laporan mengenai tren terbaru juga menyebut pengembangan seolgi bercita rasa stroberi dan Nutella. Namun, variasi tersebut tidak berarti ada satu resep resmi Pizza Seolgi. Setiap toko dapat mengembangkan topping sesuai karakter bisnis dan konsumennya. Fleksibilitas ini justru menjadi kekuatan. Seolgi berfungsi seperti kanvas yang dapat menerima rasa gurih maupun manis. Di sisi lain, inovasi berlebihan dapat membuat identitas tteok semakin sulit dikenali. Menurut saya, versi terbaik seharusnya tetap membuat konsumen sadar bahwa mereka sedang menikmati rice cake Korea. Topping sebaiknya memberikan pengalaman baru tanpa menutupi karakter dasarnya. Jika keseimbangan itu terjaga, Pizza Seolgi dapat berkembang menjadi lebih dari sekadar makanan yang menarik untuk direkam dalam video singkat.

Tren Ini Ikut Mengubah Citra Tteok sebagai Dessert

Tteok memiliki posisi panjang dalam budaya makanan Korea. Berbagai jenis rice cake hadir dalam perayaan, acara keluarga, hadiah, dan konsumsi sehari-hari. Namun, perkembangan produk seperti Pizza Seolgi menunjukkan bahwa tteok juga semakin mudah dipasarkan sebagai dessert modern. Data Sometrend yang diberitakan Seoul Economic Daily menunjukkan penyebutan rice cake dalam konteks “dessert” meningkat lebih dari 40 persen dibanding tahun sebelumnya. Perubahan bahasa tersebut penting. Konsumen muda mungkin tidak lagi melihat tteok hanya sebagai makanan tradisional untuk kesempatan tertentu. Mereka juga dapat memandangnya seperti membeli cookie, pastry, atau dessert di kafe. Industri beras Korea sendiri sudah menampilkan beragam produk olahan modern, mulai dari rice cupcake premix, rice croissant, rice bagel, hingga berbagai rice cake berisi krim dan keju. Jadi, Pizza Seolgi bukan fenomena yang berdiri sendirian. Ia muncul di tengah eksperimen yang lebih luas untuk membawa bahan berbasis beras ke format makanan kontemporer.

Pizza Seolgi Membuktikan Tradisi Bisa Beradaptasi

Pada akhirnya, Pizza Seolgi menarik bukan karena bentuknya menyerupai pizza semata. Cerita yang lebih besar berada di balik perubahan tersebut. Sebuah toko tteok lokal di Busan mengambil baekseolgi yang sudah lama dikenal, lalu memberinya bahasa visual yang lebih dekat dengan generasi baru. Media sosial mempercepat penyebarannya. Setelah itu, toko-toko lain mulai mengikuti dan mengembangkan interpretasi masing-masing. Laporan pada September 2026 menunjukkan antrean, lonjakan minat pencarian, serta peningkatan permintaan di beberapa toko. Meski demikian, belum ada alasan untuk menganggap setiap toko tteok di Korea menjual produk tersebut. Tren ini masih berkembang dan ketersediaannya bergantung pada masing-masing penjual. Justru, kondisi itu membuat fenomenanya terasa organik. Pizza Seolgi menunjukkan bahwa inovasi kuliner tidak selalu membutuhkan teknologi rumit. Kadang-kadang, sebuah tradisi hanya membutuhkan sudut pandang baru agar generasi berikutnya kembali penasaran, mengantre, mencicipi, lalu membicarakannya.