Dessert Less Sweet Makin Dicari, Selera Konsumen Mulai Berubah
Kuliner Viral – Dessert less sweet mulai mendapat perhatian karena selera konsumen terhadap makanan penutup perlahan berubah. Jika dahulu dessert identik dengan gula melimpah, krim tebal, dan rasa manis yang dominan, kini banyak orang mencari pengalaman berbeda. Mereka tetap ingin menikmati cake, pastry, es krim, atau pudding, tetapi dengan tingkat kemanisan yang lebih seimbang. Perubahan tersebut membuat konsep dessert tidak terlalu manis semakin relevan. Bahkan, rasa pahit, asam, gurih, serta aroma bahan utama kini lebih berani ditampilkan untuk menciptakan karakter yang kompleks.
Baca Juga: Street Food Naik Kelas, Penyajian Modern Mencuri Perhatian
Dessert Less Sweet Bukan Sekadar Tren Sesaat
Perubahan menuju dessert less sweet memiliki dasar yang cukup kuat. Studi HealthFocus Global Trend Study 2024 yang dikutip Institute of Food Technologists menunjukkan 71 persen konsumen global mengatakan mereka mulai menyukai produk yang tidak terlalu manis. Selain itu, pengurangan gula menjadi salah satu prioritas diet utama bagi konsumen global. Menariknya, perubahan ini bukan berarti orang berhenti menyukai dessert. Sebaliknya, konsumen tampaknya mulai mencari titik keseimbangan baru. Dessert masih berfungsi sebagai makanan yang menyenangkan. Namun, rasa manis tidak harus selalu menjadi karakter paling dominan. Karena itu, produsen memiliki ruang lebih besar untuk memainkan rasa asli cokelat, buah, teh, kopi, kacang, hingga rempah.
Konsumen Mulai Mencari Rasa Manis yang Seimbang
Preferensi terhadap rasa manis ternyata dapat berubah seiring kebiasaan makan. Konsumen yang terbiasa mengurangi gula perlahan dapat menjadi lebih sensitif terhadap produk yang sangat manis. Akibatnya, dessert dengan gula berlebihan bisa terasa lebih cepat membuat enek. Fenomena serupa terlihat dalam riset Mintel di Thailand. Sebanyak 44 persen konsumen yang disurvei mengatakan mereka berusaha mengurangi konsumsi gula secara ketat. Sementara itu, kategori sweets dan desserts menjadi salah satu sasaran utama pengurangan gula, dengan angka 67 persen. Namun, konsumen tidak selalu menginginkan rasa manis hilang sepenuhnya. Mereka cenderung mencari kompromi antara kenikmatan dan kontrol. Inilah alasan pendekatan “less sweet” terasa lebih fleksibel dibandingkan menghilangkan gula sepenuhnya.
Rasa Tidak Terlalu Manis Justru Membuka Karakter Bahan
Mengurangi dominasi gula memberikan keuntungan menarik bagi pembuat dessert. Cokelat hitam, misalnya, dapat menampilkan karakter kakao yang lebih dalam ketika tidak tertutup gula. Begitu pula dengan matcha yang mempunyai perpaduan pahit, earthy, dan aroma khas. Buah juga mendapatkan ruang lebih besar. Stroberi dapat memberikan rasa asam segar, sementara mangga menghadirkan rasa manis alami. Di sisi lain, lemon atau yuzu dapat menciptakan kontras yang membuat krim terasa lebih ringan. Karena itu, dessert less sweet bukan hanya tentang mengurangi beberapa gram gula dari resep. Keseimbangan rasa harus tetap diperhitungkan. Menurut saya, bagian inilah yang membuat tren tersebut menarik. Pastry chef ditantang menghasilkan rasa yang tetap memuaskan tanpa bergantung pada gula sebagai jalan pintas.
Matcha hingga Black Sesame Mendapat Ruang Lebih Besar
Tren rasa yang lebih seimbang ikut membuka peluang bagi bahan dengan karakter kuat. Matcha, dark chocolate, black sesame, pistachio, kopi, miso caramel, hingga citrus semakin mudah dipadukan ke dalam dessert modern. Dawn Foods mencatat bahwa profil yang tidak terlalu manis seperti black sesame dan miso caramel ikut memberikan warna baru pada produk bakery selama 2025. Tekstur dan presentasi juga berkembang untuk mengikuti perubahan permintaan konsumen. Matcha menjadi contoh yang menarik. Rasa pahit alaminya dapat diseimbangkan dengan krim lembut atau cokelat. Sementara itu, black sesame memberikan aroma panggang dan sedikit nutty. Hasilnya adalah dessert yang tetap terasa indulgent, tetapi memiliki lapisan rasa lebih kompleks dibandingkan sekadar manis.
Tekstur Mulai Sama Pentingnya dengan Tingkat Kemanisan
Saat kadar manis tidak lagi mendominasi, tekstur dapat menjadi pusat pengalaman makan. Lapisan renyah, mousse lembut, sponge ringan, serta krim halus mampu membuat dessert tetap memuaskan. Sebagai contoh, mousse cake dapat memadukan sponge tipis, mousse cokelat, lapisan buah asam, dan crunchy praline. Setiap lapisan menghadirkan sensasi berbeda. Oleh sebab itu, konsumen tetap mendapatkan pengalaman yang kaya meskipun tingkat kemanisannya lebih rendah. Tren dessert berukuran kecil juga mendukung perubahan tersebut. Produk single-serve dan mini dessert menjadi salah satu tren bakery yang menonjol karena menawarkan porsi lebih terkontrol sekaligus kesempatan mencoba lebih banyak variasi. Dengan demikian, konsep indulgence perlahan bergeser. Kepuasan tidak hanya berasal dari banyaknya gula, tetapi juga dari aroma, tekstur, suhu, dan kontras rasa.
Less Sweet Tidak Selalu Berarti Rendah Gula
Ada satu hal penting yang perlu dibedakan. Label atau persepsi “less sweet” tidak otomatis berarti sebuah dessert rendah gula. Tingkat kemanisan yang dirasakan lidah dan jumlah gula dalam produk merupakan dua hal berbeda. Sebuah cake dapat terasa tidak terlalu manis karena menggunakan dark chocolate, kopi, garam, atau bahan pahit lainnya. Namun, kandungan gulanya masih bisa cukup tinggi. Sebaliknya, reformulasi gula juga harus mempertimbangkan tekstur, kelembapan, warna, dan struktur produk. Karena itu, konsumen yang memang ingin membatasi asupan gula sebaiknya tetap memperhatikan informasi nutrisi jika tersedia. Sementara bagi pelaku usaha, komunikasi yang transparan menjadi penting. Istilah “less sweet” sebaiknya menggambarkan profil rasa, sedangkan klaim seperti reduced sugar harus mengikuti ketentuan pelabelan yang berlaku.
Mindful Indulgence Mengubah Cara Menikmati Dessert
Perubahan selera juga berkaitan dengan konsep mindful indulgence. Konsumen tetap ingin menikmati makanan favorit, tetapi mereka semakin mempertimbangkan porsi, komposisi, dan intensitas rasa. Mintel melihat pendekatan keseimbangan menjadi bagian penting dalam perkembangan kategori dessert. Bahkan, riset mereka di India menunjukkan pasar tidak hanya terbagi antara pencinta makanan manis dan konsumen yang berorientasi kesehatan. Ada kelompok konsumen yang berada di tengah dan mencari keseimbangan antara keduanya. Pola tersebut menjelaskan mengapa dessert less sweet terasa relevan. Konsumen tidak perlu memilih antara dessert yang sangat manis atau tidak makan dessert sama sekali. Mereka memiliki pilihan ketiga, yakni menikmati dessert dengan rasa lebih ringan dan proporsional.
Peluang Baru Terbuka bagi Bakery dan Dessert Shop
Bagi bakery, kafe, dan dessert shop, perubahan ini merupakan peluang untuk melakukan inovasi. Menu dapat dibuat dalam beberapa tingkat kemanisan atau menggunakan bahan yang secara alami memberikan kontras rasa. Contohnya adalah dark chocolate mousse dengan raspberry, matcha cheesecake, black sesame roll cake, lemon tart, pistachio mousse, atau tiramisu dengan karakter kopi lebih kuat. Kombinasi tersebut masih terasa sebagai dessert, tetapi tidak menjadikan gula sebagai satu-satunya daya tarik. Selain itu, ukuran porsi dapat dibuat lebih kecil. Strategi tersebut memungkinkan konsumen menikmati dessert tanpa merasa terlalu berat. Presentasi yang elegan juga dapat meningkatkan persepsi premium. Dengan demikian, nilai produk tidak hanya berasal dari ukuran, tetapi juga dari kualitas bahan, teknik, dan kompleksitas rasa.
Dessert Masa Kini Bergerak Menuju Keseimbangan
Arah perkembangan industri menunjukkan bahwa rasa manis kemungkinan tidak akan menghilang dari dunia dessert. Bagaimanapun, unsur manis tetap menjadi bagian penting dari pengalaman menikmati makanan penutup. Namun, dominasinya mulai dipertanyakan. Konsumen semakin mengenal rasa pahit matcha, keasaman citrus, intensitas dark chocolate, aroma kopi, hingga karakter gurih seperti miso. Akibatnya, standar dessert yang dianggap menarik menjadi semakin luas. Bagi saya, perubahan ini justru positif untuk kreativitas kuliner. Dessert tidak harus berlomba menjadi semakin manis. Sebaliknya, produsen dapat mengejar keseimbangan antara rasa, aroma, tekstur, dan tampilan. Pada akhirnya, dessert less sweet menawarkan sesuatu yang sederhana tetapi relevan: kenikmatan yang tetap terasa istimewa tanpa membuat rasa manis mengambil alih seluruh pengalaman.
